Beberapa waktu yang lalu si
Kembar Syafani dan Syifana terkena diare. Diare yang “lumayan” untuk ukuran
bayi 9 bulan sehingga harus rawat inap di Rumah Sakit selama tiga hari. Kata
orang-orang sih memang lagi musim, karena faktor cuaca, ada yang bilang juga diare pada bayi itu menandakan mau “mundak akale”. Entah karena faktor apapun
itu saya ingin berbagi cerita tentang diare yang dialami si kembar beberapa
hari lalu.
Jum’at 30 januari lalu Syafani
periksa ke bidan pagi hari karena Batuk pilek, siangnya kedunya mendadak buang
air besar yang sebagian besar berupa cairan kuning deras sekali. Kami spontan
panik dan bertanya-tanya kena apa ini? Wajar jika kami panik karena saat itu si kembar sedang bermain-main di
ruang tamu, maklum lagi seneng-senengnya “brangkangan” kesana kemari. Setelah
kami ganti popok, tak lama kemudian Buang Air Besar (BAB) cair lagi sampai
kurang lebih 5 kali antara siang sampai sore. Melihat kondisi tersebut kami
berinisiatif untuk membawa keduanya ke bidan lagi untuk mendapatkan pertolongan
pertama sekaligus mencari tau penyebabnya.
Seteleh di periksa Bidan, si
kembar lalu di kasih obat antara lain Antibiotik, Paracetamol, obat diare dan
oralit. “Tidak apa-apa, nanti kalau obatnya sudah diminum insyaAllah sembuh.
Hanya diare biasa. Ditunggu sampai 2
hari kalau misalnya tidak ada perkembangan langsung di bawa kerumah sakit” Kata
bidan. Setelah mendapat obat dari bidan, sampai rumah kami langsung
memberikan obat yang diberi bidan tadi, sementara itu si kembar BAB nya tambah
sering. Nah disini kepanikan kedua mulai muncul, alih-alih obat yang diberikan
masuk semua ke mulut sikembar dengan harapan cepat sembuh. Namun yang terjadi
malah sebaliknya, si kembar selalu muntah ketika di beri obat. Entah sudah
saking “tidak enak” perut si kembar atau bagaimana kami kurang tau. Yang jelas
selalu muntah ketika di beri obat, ya tentunya obat tidak ada yang masuk
kedalam perut padahal BAB cair sehari bias 5-7 kali. Sambil coba kami "telateni" sedikit-demi sedikit meminumkan obatnya pada si kembar.
Melihat kondisi si kembar yang
semakin lemas dan “rewel”, lalu kami menghubungi Bidan dan bertanya tentang
kondisi si kembar yang semakin lemas. Banyak yang bilang kalau anak diare
biasanya efeknya cepat sekali membuat anak dehidrasi (kekurangan cairan). Bidan lalu menyarankan
membawa si kembar ke salah satu Rumah Sakit yang cukup terkenal di Kota magelang. Tanpa
berpikir panjang kami pun langsung membawa si kembar ke Rumah Sakit yang
direkomendasikan Bu Bidan tadi pada Minggu sore (1/2/2015).
Ketika tiba di RS kami langsung
membawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Si kembar lalu di periksa oleh
dokter, dan saya pun berada di bagian pendaftaran menceritakan kondisi si
kembar pada petugas. Nah, disini kepanikan ketiga muncul. Selang beberapa waktu
kemudian, dengan tanpa penjelasan apapun si Dokter berkata kepada saya, “ini
saya kasih obat diminum tiga kali sehari ya”. Saya dan Istri lalu saling
pandang dan bertanya-tanya. “ Lho
ini ngga rawat inap”? sambil menatap cemas kondisi si kembar yang semakin lemas. Lalu saya di beri resep oleh dokter dan
disuruh mengambil ke Apotik. Lalu bagian pendaftaran menyodorkan catatan
tagihan yang harus saya bayar untuk penanganan di IGD tadi.
Setelah saya bayar sesuai tagihan
yang tertera di kertas, lalu saya langsung menuju Apotik sambil terus menyimpan
berjuta pertanyaan dalam hati yang belum tersampaikan ke Dokter. Karena memang tidak ada penjelasan apa-apa dari dokter. Kemudian resep saya
serahkan ke apoteker, tapi saya balik lagi menemui bagian pendaftaran dan
Dokter yang masih disana. “Dok, anak saya memang tidak apa-apa atau karena
memang kamarnya penuh”? Tanyaku pada Dokter. “Iya mas, ini kebetulan kamarnya
disini penuh”. Langsung saya sedikit emosional, “lho kalau memang penuh kenapa
ngga bilang dari tadi dok? Tanyaku. “kalau dokter bilang ini kondisi anak
begini-begini lalu bilang tapi maaf kamar disini penuh silahkan coba ke RS lain
begitu kami tentunya akan menerima tidak masalah”.Tambahku. Yang lebih mengejutkan lagi,
ketika saya ceritakan kembali kronologi dan kondisi si kembar pada dokter
sampai akhirnya saya bawa ke RS. Secara mengejutkan si Dokter malah berkata
“lho jadi sama diare juga to? Sudah berapa hari memangnya? kalau diare sudah
parah itu sehari buang airnya sekian kali bla..bla..bla. Kalo saya lihat
bayinya tidak apa-apa belum lemes”. Dengan nada agak tinggi saya pun berkata
pada si Dokter, “lho tadi kan saya sudah ceritakan semua dibagian pendaftaran
tentang kondisi anak saya. Anak saya itu Diare dok, sudah BAB cair 5-7 kali sehari sejak hari jum’at (30/01/2015) dan
obatnya tidak ada yang masuk karena terus muntah, sementara kondisinya terus
melemah makanya kami ke sini.” Terangku sambil menahan emosi.
“Atau gini aja resepnya saya
tambahi yang untuk diare ya, saya kira tadi cuma batuk sama pilek”. Kata dokter
dengan santainya. Dengan menahan emosi yang mau meluap, akhirnya obat
yang di apotek tidak saya ambil dan berkata kepada si Dokter, “ya sudah obatanya
tidak saya ambil. Kalau memang penuh bilang dari awal jangan seperti itu tidak
jelas. “ Sambil terus bergumam, saya meninggalkan si dokter tersebut. lha ini
bagaimana? Antara petugas pendaftaran sama dokter tidak nyambung. Sudah
diceritakan sedetil-detilnya ternyata kesimpulan dokter sangat berbeda,
terkesan menganggap remeh dan tidak serius memeriksa si kembar. Yang lebih
parah lagi adalah ketika dokter hanya memberikan resep obat flu dan batuk
padahal yang dirasakan adalah diare. Memang waktu itu pasien anak-anak cukup ramai, tapi seharusnya tak menjadikan pelayanan jadi terkesan sangat asal-asalan.
Sangat kecewa dengan kejadian
tersebut langsung saja akhirnya si kembar saya bawa ke Rumah Sakit Islam,
tempat yang sama ketika dulu si kembar dilahirkan. Alasan kenapa kami langsung
menuju kesana, karena melihat pelayanan dulu ketika si kembar lahiran disana cukup baik. Namun ternyata disana juga sudah penuh, masih ada 1
kamar, itupun kelas 1. Dengan tak banyak pertimbangan dan tanpa kartu asuransi BPJS yang penting si kembar dapat segera tertangani akhirnya si kembar di Infus
dan selang beberapa saat kemudian masuk kekamar yang tinggal satu-satunya tadi. Si kembar dapat kamar 1C yang berada di ujung depan
dekat kantin.
Sehari kemudian, kondisi si
kembar mulai membaik dan sudah tidak terlihat lemas seperti ketika datang.
Berangsur-angsur mulai membaik dan terus membaik kadang-kadang masih BAB namun
tidak sesering beberapa hari sebelumnya. Rabu (4/2/2015) akhirnya si kembar
sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Alhamdulillah, lega rasanya si kembar
sudah boleh pulang dan tidak terlalu lama menginap di RSI. Sekarang tinggal
pemulihan, dan senyum lebar sudah terpancar di raut wajah mereka.
Sempat sedikit panik, sempat kecewa dengan pelayanan RS yang pertama didatangi, namun sekarang Alhamdulillah sudah berlalu itu semua.
Sempat sedikit panik, sempat kecewa dengan pelayanan RS yang pertama didatangi, namun sekarang Alhamdulillah sudah berlalu itu semua.
