Tampilkan postingan dengan label Usia Emas Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Usia Emas Anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Desember 2014

Beberapa Pertanyaan Seputar Menggendong Bayi

Menggendong bayi merupakan hal yang gampang-gampang susah. Gampang jika sudah tau tentang “Ilmu pergendongan bayi”, susah dan takut jika belum tau atau belum pernah mencobanya. Nah, berikut ini ada beberapa pertanyaan lengkap dengan jawabannya seputar kegiatan menggendong sang buah hati termasuk benar tidaknya mitos-mitos yang berkembang.

1. Mana yang lebih baik, kain gendongan tradisional atau kain gendongan siap pakai? Untuk pilihan cara menggendong yang bervariasi, lebih baik pilih kain gendongan tradisional semacam jarit. Dengan kain gendongan itu, kita bisa  menggendong bayi dalam berbagai posisi; di depan perut, di punggung, atau di pinggul. Kain gendongan itu juga sempurna dalam menyesuaikan bentuk tubuh orangtua dengan bayi, sejak ia lahir hingga usia balita.

2. Bisakah kain gendongan tradisional dimodifikasi agar lebih mudah dipakai? Bisa. Kai Schaffran, penasehat produk gendongan dan pemilik Toko Gendongan “LeLo karli 123” di Leipzig, Jerman, menyarankan agar orangtua yang baru pertama kali menggendong dengan kain menggunakan teknik silang lilit dan memasang pengait di ujung kain gendongan.

3. Bisakah kita salah posisi saat menggendong bayi? Bisa, tetapi tidak perlu khawatir, sebab menurut Dr. Heiner Biedermann, ahli ortopedi dan penanganan kecelakaan dari Cologne, Jerman, tubuh bayi itu kuat. Bayi-bayi yang sehat, bisa menanggung cara menggendong yang tidak optimal.  Penelitian di Jerman oleh dokter anak Dr. Waltraud Stening-Belz dan Hilal Kavruk, menemukan bahwa tidak ada hubungan antara salah menggendong dengan cidera atau kelainan tulang belakang. Dokter lainnya, Susanne Schubert-Schaffran, menyebutkan bahwa ketika orangtua salah menggendong, yang berisiko cidera justeru orangtua itu sendiri, yaitu berisiko cidera punggung.

4. Seperti apa kriteria gendongan yang baik? Kriteria gendongan yang baik menurut Kai Schaffran : Dudukannya memungkinkan belakang lutut anak tertutup. Posisi lutut anak saat digendong kurang lebih sejajar dengan pusar, sehingga bagian bokongnya mudah diletakkan. Bagian punggung anak dapat ditunjang, dan dia dapat bersandar dengan nyaman bahkan ketika tertidur.

5. Saya senang menggendong dengan wajah bayi menghadap ke depan, karena dia jadi bisa melihat apa yang saya lihat. Benarkah? Dokter anak dan fisioterapis Jerman, Dr. Astrid Mueller-Slomka, memiliki pendapat berbeda. Menurutnya, cara menggendong dengan posisi anak menghadap ke depan, justru membuat anak menggantung di gendongan dan tidak duduk dengan benar.  Akibatnya, tangan dan kakinya menjulur tanpa ada tekanan pada otot, sehingga seluruh berat tubuhnya berpusat pada dudukan kecil di gendongan. Selain itu, Dr. Astrid  melihat ada risiko masalah kejiwaan pada anak yang selama digendong tidak bisa memutar badan. “Saat digendong, usahakan bayi bisa melihat ke segala arah. Idealnya ia digendong di pinggul atau di punggung, karena pada posisi itu ia bisa melihat ke segala arah dan posisi tubuhnya optimal," ujar Dr. Astrid.

6. Benarkah sering menggendong anak akan membuatnya tidak mandiri? Tidak,  ujar Katrin Jill Hagemeyer, psikolog dan pelatih keluarga dari Hamburg, Jerman. Menurutnya, setiap anak memiliki rencana atau instink dari dalam dirinya sendiri, untuk lebih mandiri di dunia. Perkembangan itu tidak bisa dicegah hanya dengan sering menggendongnya. Katrin berkata, "Bayi-bayi kecil justru merasa lebih aman saat digendong, dan itu membangun rasa percaya diri. Kelak, rasa percaya diri membantu anak dalam menunaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan kemandirian."

7. Bayi saya malah rewel kalau digendong. Memangnya ada bayi yang tidak suka digendong? "Tidak ada", kata Katrin. Menurutnya, ”Bila ada bayi yang rewel saat digendong, pasti karena ia tidak nyaman, misalnya karena posisi duduknya miring, tubuhnya tertekan, atau ada alasan tersembunyi seperti lapar, sakit perut atau popoknya basah." Katrin juga mengungkapkan bahwa bayi itu peka;  mereka bisa merasakan bila ayah atau bundanya kurang yakin, kurang nyaman atau lelah saat menggendong, dan itu bisa membuat bayi rewel. Kata Katrin, "Baru pada usia balita kesukaan anak digendong akan berkurang, karena dia ingin lebih banyak bermain di lantai. Pada saat itu, kurangi frekuensi menggendong anak."

8. Bayi saya sering digendong pengasuhnya. Saya khawatir ia terlambat berjalan. Benarkah kekhawatiran saya? Jangan takut, karena menurut Dr. Astrid, digendong akan memberi manfaat terhadap perkembangan motorik anak. "Melalui gerakan-gerakan yang mudah, anak akan menerima rangsangan yang informatif tentang bentuk tubuh yang bisa ia peragakan dengan menggunakan otot-ototnya, sehingga menjadi aktifitas yang sederhana".  Digendong juga merangsang keseimbangan, melatih persepsi diri anak dan kemampuan koordinasi, yang kelak berguna saat ia belajar merangkak dan berjalan.

9. Apa benar anak yang sering digendong, menjadi tidak cengeng? Benar. Menurut berbagai penelitian, dengan digendong tangisan anak di malam hari akan lebih singkat, begitu juga dengan waktu keseluruhan dia berteriak-teriak. Penyebabnya, karena  anak tahu orangtuanya tidak akan membiarkan dia merasa sendirian saat menangis. Saat menggendong anak, orangtua akan memberi anak kedekatan, perhatian dan menstimulasi arti kehadiran anak. Para ilmuwan di London berpendapat, efek menggendong anak selama tiga jam sehari, sama seperti memberi perhatian intensif kepada anak selama 24 jam. Menggendong juga baik untuk ikatan batin - saat kita mengaitkan tali gendongan, bukan cuma terbentuk ikatan fisik, tetapi juga terjalin ikatan batin. Jika Anda tidak punya banyak waktu untuk menggendong anak, gendonglah dia di punggung saat Anda mengerjakan tugas sehari-hari.

Sumber bacaan: http://www.ayahbunda.co.id/

Minggu, 30 November 2014

Penasaran Dengan yang Baru

Syifa mulai penasaran dengan gambar bunga di dinding kamar. Dia pun berusaha memetik bunga itu sambil sesekali "geregetan".

Di umur yang ke-7 bulan lebih satu minggu, si kembar Syafani dan Syifana mulai menunjukkan kebiasaan baru. Misalnya merangkak, lebih responsif terhadap sesuatu yang baru dan lain-lain.

Dan yang bikin lebih "menggelitik" adalah ketika si kembar sering berkomunikasi satu sama lain. Tentunya dengan bahasa mereka yang orang dewasa tentu tidak tahu. Aah...alangkah asyiknya ketika melihat Syafa-Syifa sedang seperti itu. Hilang semua capek dan penat.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Usia Emas Anak (Golden Age)

Usia 0-5 tahun sering disebut sebagai golden age (usia emas) dimana fisik dan otak anak sedang berada di masa pertumbuhan terbaiknya.  Berbahagialah orang tua yang bisa meluangkan banyak waktu bagi putra-putrinya yang berada di usia emas, setiap hari bisa menemukan hal menakjubkan terkait perkembangan balitanya.

Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya menjadi anak yang pintar, aktif, dan sehat, secara fisik dan mental. Menurut Psikolog Kasandra Putranto -seperti dimuat detikhealth.com- ibu adalah tokoh sentral, jika ibu bisa menjadi contoh baik dan sehat maka anak pun akan jadi baik dan sehat kondisinya. Menjadi tokoh sentral maksudnya ibu yang melahirkan dan membesarkan anak, juga berperan sebagai arsitek dalam keluarga, tentu dengan tak melupakan peran ayah yang juga penting. Namun karena biasanya sang ayah cenderung lebih sibuk mencari nafkah di luar rumah, maka ibulah yang memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak.