Tampilkan postingan dengan label #SyafaSyifa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #SyafaSyifa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2015

Kalian Luar Biasaa....

Menjelang maghrib sampai menjelang isya' pada kamis (2/4/2015) kalian berhasil membuat Ayah dan Bunda terpingkal-pingkal sekaligus kewalahan nak. Betapa tidak, si kembar syafa dan syifa malah mengajak bermain dan bercanda sejadi-jadinya. Sampai-sampai ayah bunda nya kewalahan mengikuti keinginnnya. Padahal biasanya mereka sudah pada mulai ngantuk dan tertidur pada jam-jam segitu. Dari bermain di jendela lah, “netek” ASI kanan-kiri sambil sesekali gelimpangan, nyanyi-nyanyi (dalam bahasa bayi) atau berkata satu dua patah kata seperti tatatatata...nanana.....maemaemaemaem...mamamama...dan lain sebagainya dalam nada yang lebih tinggi.


Sebenarnya sudah sejak siang sih, mereka mulai sangat aktif dan banyak akal yang di perlihatkan. Memang beberapa minggu belakangan Menjelang setahun si kembar yang tepat jatuh pada 21 April 2015 nanti, syafa-syifa sepertinya “mundak akale” sangat drastis, bahkan kadang diluar dugaan. Subhanallah...AllahuAkbar....luar biasa ini si kembar perkembangannya kata kami berdua seraya memandangi mereka sambil sesekali tertawa.  Terus sehat nak, kalianlah alasan kenapa kami selalu bersyukur menikmati samudera hidup yang berkelok-kelok seperti jalananan pegunungan sumbing . Kalianlah “penawar” disegala situasi dan kondisi nak. Kalian Luarrr Biasaaa......

Kamis, 19 Februari 2015

Hati-hati Dalam Memilih Mainan Anak

Masa kecil identik dengan masa bermain, jadi jangan sekali-kali meremehkan aktivitas bermain anak. Bermain mungkin terlihat hanya sebagai pengisi waktu luang, tapi sebenarnya bisa membantu anak menyiapkan kecerdasan mereka. Ketika bermain, anak bebas menentukan pilihan apa yang akan mereka mainkan. Semua pilihan ini akan membantu terbentuknya gambaran diri dan membuat anak merasa mampu mengendalikan diri sendiri. Bermain mendorong anak untuk mengembangkan keterampilan, intelektual, sosial dan fisik. Ketika Si Kecil sedang bermain, berarti ia sedang berimajinasi dan membuat ide-ide baru yang dipelajari. Intinya, anak bisa mengekspresikan pengetahuan, sekaligus menambah pengetahuan baru yang berguna bagi masa depannya.

Perhatikan Tanda
Sebagai orangtua yang sadar dan peduli akan tumbuh kembang anak, pasti memilih mainan terbaik untuk buah hati. Memilih mainan bukan sekedar dari bentuk serta harganya saja, namun juga manfaat dari permainan tersebut dan tentunya aman bagi anak. Karena banyak produsen mainan yang tidak peduli akan hal ini dan memproduksi mainan dengan material berbahaya. Faktor harga produksilah yang menjadi pertimbangan mereka. Ada beberapa tanda yang bisa kita kenali untuk membedakan mainan itu beracun atau tidak. Perhatikan box kemasan pada setiap produk mainan, karena biasanya tercantum bahan-bahan yang digunakan dan informasi-informasi yang bermanfaat lainnya. Bila terdapat kandungan berbahaya pada mainan, biasanya ada peringatan dari produsen. 

Berdasarkan Usia
Sebenarnya memilih mainan untuk anak tidaklah sulit, hanya saja kita musti paham apa saja  kebutuhan anak yang sesuai dengan umurnya. Biasanya untuk usia 0-3 bulan, anak harus diberikan mainan yang cerah, berwarna dan tentunya bisa merangsang syaraf motorik mereka. Hal ini karena si anak belum bisa melihat secara jelas, jadi pilihan warna yang cerah dan terang akan membantu penglihatan mereka. Untuk usia 6 bulan, orangtua bisa memberikan mainan yang bisa digigit. Selain si anak bisa bermain, bisa juga merangsang pertumbuhan giginya. Memasuki usia 6-9 bulan, anak bisa diberikan mainan seperti balok-balok kecil atau bola dengan warna terang. Di usia 9-12 bulan, orang tua bisa memberikan mainan yang merangsang interaksi, misalnya boneka lucu atau boneka tangan yang bisa mengajaknya berkomunikasi.

Melatih Intelegensia
Setelah anak berusia lebih dari setahun, mainan yang kita cari tentunya berbeda dan lebih bervariasi lagi. Saat ini anak memasuki tahapan menyerap lebih banyak lagi pengetahuan yang ada di sekitarnya. Artinya ada beberapa variasi mainan dalam satu mainan sehingga stimulasi otak bisa lebih maksimal. Mainan yang dimaksud bisa mendorong kemampuan pemecahan masalah  dan melatih kesabaran serta ketekunan. Jadi anak tidak hanya sekedar menikmati, tapi juga dituntut ketelitian, kesabaran dan ketekunan saat memainkan mainan tersebut. Contoh mainan jenis ini bisa dilihat di box.

Harus Tepat & Bermanfaat
Memilih mainan yang kreatif dan edukatif tidak perlu mahal, tapi sebagai orangtua kita harus jelas mengetahui manfaat apa yang akan kita berikan kepada anak. Dalam memilih mainan, kita bisa mencari toko mainan konvensional ataupun toko online. Tanyakan kepada costumer service tentang mainan yang cocok untuk anak kita. Jangan terpancing dengan harga murah atau diskon, tapi teliti dulu isi mainan tersebut. Hal lain yang perlu diperhatikan, mahal bukan jaminan anak kita langsung menjadi pintar, karena yang terpenting adalah manfaat dari mainan tersebut untuk pertumbuhan. Siap untuk memilih mainan?

Box :

Jenis Mainan Edukatif

Puzzle
Permainan bongkar pasang ini bisa digunakan untuk melatih motorik halus anak. Selain kemampuan motorik yang didapat, permainan ini juga bisa digunakan untuk melatih kecerdasan kognitif dan koordinasi syaraf mata dan tangan.

Skuter
Untuk usia anak di atas 2 tahun, kita bisa memilih skuter untuk melatih kemampuan motorik kasar sekaligus melatih keseimbangan anak.

Sepeda
Sepeda roda tiga atau jenis lainnya bisa digunakan untuk melatih syaraf motorik kasar anggota gerak seperti tangan dan kaki.

Play-Doh
Mainan ini merupakan sejenis permainan seperti plastisin. Hanya saja bahannya tidak berbahaya. Permainan ini bisa digunakan untuk melatih kemampuan motorik halus dan kecerdasan kognitif melalui aktivitas membuat aneka bentuk.

Bekel
Walau sederhana, permainan ini juga berguna untuk melatih kecerdasan motorik halus dan koordinasi syaraf antara mata dan tangan.

Bola

Permainan bola apapun jenisnya (sepak bola, basket, voli) bisa melatih kemampuan otot-ototnya. Selain itu anak juga bisa melatih koordinasi kerja tangan, mata dan kaki mereka. 

Sumber: http://www.familyguideindonesia.com/

5 Penelitian Tentang Bayi Cerdas

Bayi tidak sekadar lucu dan menggemaskan. Belum lama ini sejumlah penelitian menunjukkan kalau bayi ternyata jauh lebih memahami tentang lingkungan mereka sebelum orang dewasa menyadarinya. Berikut lima penelitian terbaru yang menunjukkan kecerdasan bayi: 

1. Bayi baru lahir mengenali suara ibu. Peneliti dari Universitas Montreal dan Universitas Sainte-Justine Research Centre Hospital menemukan bahwa suara ibu mampu mengaktifkan bagian otak yang bertanggung jawab untuk pembelajaran bahasa. Para peneliti mengenakan elektroda pada 16 kepala bayi baru lahir untuk menganalisis aktivitas otaknya. Kemudia ibu bayi dan perawat wanita diminta untuk berbicara. Sinyal otak mengungkapkan kalau bayi (yang berumur kurang dari 24 jam pada saat itu) sudah bisa mengenali suara ibu mereka dan tidak bereaksi terhadap suara wanita lain. 

2. Bayi mengerti bahasa Anjing. Atau lebih tepatnya, mereka mampu menafsirkan makna gonggongan anjing, meskipun sebelumnya mereka tidak pernah berada dekat dengan hewan tersebut. Para peneliti dari Brigham Young University menemukan bayi berusia 6 bulan bayi dapat membedakan mana gonggongan anjing yang kasar dan tidak ramah, mana gonggongan yang bersahabat dengan gambar anjing yang dihadapkan padanya. Dari studi itu, dapat disimpulkan bahwa bayi dapat menerjemahkan emosi bahkan sebelum ia belajar berbicara. 

3. Bayi memiliki rasa keadilan yang kuat. Studi yang dipimpin oleh Profesor Kiley Hamlin dari University of British Columbia menemukan bahwa bayi usia 8 bulan tidak keberatan melihat orang dihukum jika memang mereka telah berbuat salah, dan bayi tidak suka melihat orang-orang yang berpilaku buruk mendapat penghargaan atau penghormatan dari orang lain. 

4. Bayi bisa menceritakan lelucon. Bayi tahu bagaimana menceritakan lelucon bahkan sebelum mereka dapat berbicara. Bagaimana ya kira-kira gaya lelucon bayi? Ia berpura-pura memberikan mainannya pada anak yang lain, tapi di menit terakhir ia akan merebut kembali mainan tersebut. Para peneliti di Australia’s Charles Sturt University menangkap perilaku ini (terjadi pada bayi usia 12 bulan) dengan mempelajarinya dari rekaman kamera kecil (babycam) yang dipasang pada topi atau ikat kepala yang dikenakan bayi.

Sumber: http://www.familyguideindonesia.com/

Kamis, 12 Februari 2015

Jumat, 06 Februari 2015

Dear "Diare"

Beberapa waktu yang lalu si Kembar Syafani dan Syifana terkena diare. Diare yang “lumayan” untuk ukuran bayi 9 bulan sehingga harus rawat inap di Rumah Sakit selama tiga hari. Kata orang-orang sih memang lagi musim, karena faktor cuaca, ada yang bilang juga diare pada bayi itu menandakan mau “mundak akale”. Entah karena faktor apapun itu saya ingin berbagi cerita tentang diare yang dialami si kembar beberapa hari lalu.

Jum’at 30 januari lalu Syafani periksa ke bidan pagi hari karena Batuk pilek, siangnya kedunya mendadak buang air besar yang sebagian besar berupa cairan kuning deras sekali. Kami spontan panik dan bertanya-tanya kena apa ini? Wajar jika kami panik  karena saat itu si kembar sedang bermain-main di ruang tamu, maklum lagi seneng-senengnya “brangkangan” kesana kemari. Setelah kami ganti popok, tak lama kemudian Buang Air Besar (BAB) cair lagi sampai kurang lebih 5 kali antara siang sampai sore. Melihat kondisi tersebut kami berinisiatif untuk membawa keduanya ke bidan lagi untuk mendapatkan pertolongan pertama sekaligus mencari tau penyebabnya.

Seteleh di periksa Bidan, si kembar lalu di kasih obat antara lain Antibiotik, Paracetamol, obat diare dan oralit. “Tidak apa-apa, nanti kalau obatnya sudah diminum insyaAllah sembuh. Hanya diare biasa. Ditunggu sampai 2 hari kalau misalnya tidak ada perkembangan langsung di bawa kerumah sakit” Kata bidan. Setelah mendapat obat dari bidan, sampai rumah kami langsung memberikan obat yang diberi bidan tadi, sementara itu si kembar BAB nya tambah sering. Nah disini kepanikan kedua mulai muncul, alih-alih obat yang diberikan masuk semua ke mulut sikembar dengan harapan cepat sembuh. Namun yang terjadi malah sebaliknya, si kembar selalu muntah ketika di beri obat. Entah sudah saking “tidak enak” perut si kembar atau bagaimana kami kurang tau. Yang jelas selalu muntah ketika di beri obat, ya tentunya obat tidak ada yang masuk kedalam perut padahal BAB cair sehari bias 5-7 kali. Sambil coba kami "telateni" sedikit-demi sedikit meminumkan obatnya pada si kembar.

Melihat kondisi si kembar yang semakin lemas dan “rewel”, lalu kami menghubungi Bidan dan bertanya tentang kondisi si kembar yang semakin lemas. Banyak yang bilang kalau anak diare biasanya efeknya cepat sekali membuat anak dehidrasi (kekurangan cairan). Bidan lalu menyarankan membawa si kembar ke salah satu Rumah Sakit yang cukup terkenal di Kota magelang. Tanpa berpikir panjang kami pun langsung membawa si kembar ke Rumah Sakit yang direkomendasikan Bu Bidan tadi pada Minggu sore (1/2/2015).

Ketika tiba di RS kami langsung membawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Si kembar lalu di periksa oleh dokter, dan saya pun berada di bagian pendaftaran menceritakan kondisi si kembar pada petugas. Nah, disini kepanikan ketiga muncul. Selang beberapa waktu kemudian, dengan tanpa penjelasan apapun si Dokter berkata kepada saya, “ini saya kasih obat diminum tiga kali sehari ya”. Saya dan Istri lalu saling pandang dan bertanya-tanya. “ Lho ini ngga  rawat inap”? sambil menatap cemas kondisi si kembar yang semakin lemas. Lalu saya di beri resep oleh dokter dan disuruh mengambil ke Apotik. Lalu bagian pendaftaran menyodorkan catatan tagihan yang harus saya bayar untuk penanganan di IGD tadi.

Setelah saya bayar sesuai tagihan yang tertera di kertas, lalu saya langsung menuju Apotik sambil terus menyimpan berjuta pertanyaan dalam hati yang belum tersampaikan ke Dokter. Karena memang tidak ada penjelasan apa-apa dari dokter. Kemudian resep saya serahkan ke apoteker, tapi saya balik lagi menemui bagian pendaftaran dan Dokter yang masih disana. “Dok, anak saya memang tidak apa-apa atau karena memang kamarnya penuh”? Tanyaku pada Dokter. “Iya mas, ini kebetulan kamarnya disini penuh”. Langsung saya sedikit emosional, “lho kalau memang penuh kenapa ngga bilang dari tadi dok? Tanyaku. “kalau dokter bilang ini kondisi anak begini-begini lalu bilang tapi maaf kamar disini penuh silahkan coba ke RS lain begitu kami tentunya akan menerima tidak masalah”.Tambahku. Yang lebih mengejutkan lagi, ketika saya ceritakan kembali kronologi dan kondisi si kembar pada dokter sampai akhirnya saya bawa ke RS. Secara mengejutkan si Dokter malah berkata “lho jadi sama diare juga to? Sudah berapa hari memangnya? kalau diare sudah parah itu sehari buang airnya sekian kali bla..bla..bla. Kalo saya lihat bayinya tidak apa-apa belum lemes”. Dengan nada agak tinggi saya pun berkata pada si Dokter, “lho tadi kan saya sudah ceritakan semua dibagian pendaftaran tentang kondisi anak saya. Anak saya itu Diare dok, sudah BAB  cair 5-7 kali sehari sejak hari jum’at (30/01/2015) dan obatnya tidak ada yang masuk karena terus muntah, sementara kondisinya terus melemah makanya kami ke sini.” Terangku sambil menahan emosi.

“Atau gini aja resepnya saya tambahi yang untuk diare ya, saya kira tadi cuma batuk sama pilek”. Kata dokter dengan santainya. Dengan menahan emosi yang mau meluap, akhirnya obat yang di apotek tidak saya ambil dan berkata kepada si Dokter, “ya sudah obatanya tidak saya ambil. Kalau memang penuh bilang dari awal jangan seperti itu tidak jelas. “ Sambil terus bergumam, saya meninggalkan si dokter tersebut. lha ini bagaimana? Antara petugas pendaftaran sama dokter tidak nyambung. Sudah diceritakan sedetil-detilnya ternyata kesimpulan dokter sangat berbeda, terkesan menganggap remeh dan tidak serius memeriksa si kembar. Yang lebih parah lagi adalah ketika dokter hanya memberikan resep obat flu dan batuk padahal yang dirasakan adalah diare. Memang waktu itu pasien anak-anak cukup ramai, tapi seharusnya tak menjadikan pelayanan jadi terkesan sangat asal-asalan. 

Sangat kecewa dengan kejadian tersebut langsung saja akhirnya si kembar saya bawa ke Rumah Sakit Islam, tempat yang sama ketika dulu si kembar dilahirkan. Alasan kenapa kami langsung menuju kesana, karena melihat pelayanan dulu ketika si kembar lahiran disana cukup baik. Namun ternyata disana juga sudah penuh, masih ada 1 kamar, itupun kelas 1. Dengan tak banyak pertimbangan dan tanpa kartu asuransi BPJS yang penting si kembar dapat segera tertangani akhirnya si kembar di Infus dan selang beberapa saat kemudian masuk kekamar yang tinggal satu-satunya tadi. Si kembar dapat kamar 1C yang berada di ujung depan dekat kantin.

Sehari kemudian, kondisi si kembar mulai membaik dan sudah tidak terlihat lemas seperti ketika datang. Berangsur-angsur mulai membaik dan terus membaik kadang-kadang masih BAB namun tidak sesering beberapa hari sebelumnya. Rabu (4/2/2015) akhirnya si kembar sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Alhamdulillah, lega rasanya si kembar sudah boleh pulang dan tidak terlalu lama menginap di RSI. Sekarang tinggal pemulihan, dan senyum lebar sudah terpancar di raut wajah mereka.

Sempat sedikit panik, sempat kecewa dengan pelayanan RS yang pertama didatangi, namun sekarang Alhamdulillah sudah berlalu itu semua.  

Sabtu, 20 Desember 2014

Beberapa Pertanyaan Seputar Menggendong Bayi

Menggendong bayi merupakan hal yang gampang-gampang susah. Gampang jika sudah tau tentang “Ilmu pergendongan bayi”, susah dan takut jika belum tau atau belum pernah mencobanya. Nah, berikut ini ada beberapa pertanyaan lengkap dengan jawabannya seputar kegiatan menggendong sang buah hati termasuk benar tidaknya mitos-mitos yang berkembang.

1. Mana yang lebih baik, kain gendongan tradisional atau kain gendongan siap pakai? Untuk pilihan cara menggendong yang bervariasi, lebih baik pilih kain gendongan tradisional semacam jarit. Dengan kain gendongan itu, kita bisa  menggendong bayi dalam berbagai posisi; di depan perut, di punggung, atau di pinggul. Kain gendongan itu juga sempurna dalam menyesuaikan bentuk tubuh orangtua dengan bayi, sejak ia lahir hingga usia balita.

2. Bisakah kain gendongan tradisional dimodifikasi agar lebih mudah dipakai? Bisa. Kai Schaffran, penasehat produk gendongan dan pemilik Toko Gendongan “LeLo karli 123” di Leipzig, Jerman, menyarankan agar orangtua yang baru pertama kali menggendong dengan kain menggunakan teknik silang lilit dan memasang pengait di ujung kain gendongan.

3. Bisakah kita salah posisi saat menggendong bayi? Bisa, tetapi tidak perlu khawatir, sebab menurut Dr. Heiner Biedermann, ahli ortopedi dan penanganan kecelakaan dari Cologne, Jerman, tubuh bayi itu kuat. Bayi-bayi yang sehat, bisa menanggung cara menggendong yang tidak optimal.  Penelitian di Jerman oleh dokter anak Dr. Waltraud Stening-Belz dan Hilal Kavruk, menemukan bahwa tidak ada hubungan antara salah menggendong dengan cidera atau kelainan tulang belakang. Dokter lainnya, Susanne Schubert-Schaffran, menyebutkan bahwa ketika orangtua salah menggendong, yang berisiko cidera justeru orangtua itu sendiri, yaitu berisiko cidera punggung.

4. Seperti apa kriteria gendongan yang baik? Kriteria gendongan yang baik menurut Kai Schaffran : Dudukannya memungkinkan belakang lutut anak tertutup. Posisi lutut anak saat digendong kurang lebih sejajar dengan pusar, sehingga bagian bokongnya mudah diletakkan. Bagian punggung anak dapat ditunjang, dan dia dapat bersandar dengan nyaman bahkan ketika tertidur.

5. Saya senang menggendong dengan wajah bayi menghadap ke depan, karena dia jadi bisa melihat apa yang saya lihat. Benarkah? Dokter anak dan fisioterapis Jerman, Dr. Astrid Mueller-Slomka, memiliki pendapat berbeda. Menurutnya, cara menggendong dengan posisi anak menghadap ke depan, justru membuat anak menggantung di gendongan dan tidak duduk dengan benar.  Akibatnya, tangan dan kakinya menjulur tanpa ada tekanan pada otot, sehingga seluruh berat tubuhnya berpusat pada dudukan kecil di gendongan. Selain itu, Dr. Astrid  melihat ada risiko masalah kejiwaan pada anak yang selama digendong tidak bisa memutar badan. “Saat digendong, usahakan bayi bisa melihat ke segala arah. Idealnya ia digendong di pinggul atau di punggung, karena pada posisi itu ia bisa melihat ke segala arah dan posisi tubuhnya optimal," ujar Dr. Astrid.

6. Benarkah sering menggendong anak akan membuatnya tidak mandiri? Tidak,  ujar Katrin Jill Hagemeyer, psikolog dan pelatih keluarga dari Hamburg, Jerman. Menurutnya, setiap anak memiliki rencana atau instink dari dalam dirinya sendiri, untuk lebih mandiri di dunia. Perkembangan itu tidak bisa dicegah hanya dengan sering menggendongnya. Katrin berkata, "Bayi-bayi kecil justru merasa lebih aman saat digendong, dan itu membangun rasa percaya diri. Kelak, rasa percaya diri membantu anak dalam menunaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan kemandirian."

7. Bayi saya malah rewel kalau digendong. Memangnya ada bayi yang tidak suka digendong? "Tidak ada", kata Katrin. Menurutnya, ”Bila ada bayi yang rewel saat digendong, pasti karena ia tidak nyaman, misalnya karena posisi duduknya miring, tubuhnya tertekan, atau ada alasan tersembunyi seperti lapar, sakit perut atau popoknya basah." Katrin juga mengungkapkan bahwa bayi itu peka;  mereka bisa merasakan bila ayah atau bundanya kurang yakin, kurang nyaman atau lelah saat menggendong, dan itu bisa membuat bayi rewel. Kata Katrin, "Baru pada usia balita kesukaan anak digendong akan berkurang, karena dia ingin lebih banyak bermain di lantai. Pada saat itu, kurangi frekuensi menggendong anak."

8. Bayi saya sering digendong pengasuhnya. Saya khawatir ia terlambat berjalan. Benarkah kekhawatiran saya? Jangan takut, karena menurut Dr. Astrid, digendong akan memberi manfaat terhadap perkembangan motorik anak. "Melalui gerakan-gerakan yang mudah, anak akan menerima rangsangan yang informatif tentang bentuk tubuh yang bisa ia peragakan dengan menggunakan otot-ototnya, sehingga menjadi aktifitas yang sederhana".  Digendong juga merangsang keseimbangan, melatih persepsi diri anak dan kemampuan koordinasi, yang kelak berguna saat ia belajar merangkak dan berjalan.

9. Apa benar anak yang sering digendong, menjadi tidak cengeng? Benar. Menurut berbagai penelitian, dengan digendong tangisan anak di malam hari akan lebih singkat, begitu juga dengan waktu keseluruhan dia berteriak-teriak. Penyebabnya, karena  anak tahu orangtuanya tidak akan membiarkan dia merasa sendirian saat menangis. Saat menggendong anak, orangtua akan memberi anak kedekatan, perhatian dan menstimulasi arti kehadiran anak. Para ilmuwan di London berpendapat, efek menggendong anak selama tiga jam sehari, sama seperti memberi perhatian intensif kepada anak selama 24 jam. Menggendong juga baik untuk ikatan batin - saat kita mengaitkan tali gendongan, bukan cuma terbentuk ikatan fisik, tetapi juga terjalin ikatan batin. Jika Anda tidak punya banyak waktu untuk menggendong anak, gendonglah dia di punggung saat Anda mengerjakan tugas sehari-hari.

Sumber bacaan: http://www.ayahbunda.co.id/

Minggu, 30 November 2014

Penasaran Dengan yang Baru

Syifa mulai penasaran dengan gambar bunga di dinding kamar. Dia pun berusaha memetik bunga itu sambil sesekali "geregetan".

Di umur yang ke-7 bulan lebih satu minggu, si kembar Syafani dan Syifana mulai menunjukkan kebiasaan baru. Misalnya merangkak, lebih responsif terhadap sesuatu yang baru dan lain-lain.

Dan yang bikin lebih "menggelitik" adalah ketika si kembar sering berkomunikasi satu sama lain. Tentunya dengan bahasa mereka yang orang dewasa tentu tidak tahu. Aah...alangkah asyiknya ketika melihat Syafa-Syifa sedang seperti itu. Hilang semua capek dan penat.

Senin, 17 November 2014

Tips Agar Anak Cerdas Sejak Bayi

Semua orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tapi tahukah Anda, 4 hal ini tidak hanya baik tapi juga dapat membuat anak lebih cerdas dan sehat sejak bayi?

1. Bicara dengan cerdas
Ajak bayi Anda bicara sesering mungkin
Menurut Dr.Jean Ashton –pengajar dan pemerhati pendidikan anak usia dini dari Universitas Sydey, Asutralia, mengajak bayi bicara bukan hanya terbatas pada memuji, mengeluarkan kata-kata lucu atau memanggil-manggil namanya.
“Ajak bayi Anda bicara dan belajar juga  menjadi pendengar yang baik untuknya. Bayi mungkin belum bisa menjawab dengan kata-kata, namun mereka pandai merespon melalui ekspresinya. Respon ini yang perlu diperhatikan dan dihargai sebagai bentuk awal bayi belajar berkomunikasi dengan lingkungannya.”
Anda juga dapat mengajak bayi berbicara cerdas dengan memanggil namanya, menanyakan sesuatu, menjelaskan hal sesuai logika serta menggunakan kalimat lengkap.

2. Ikut bermain
Masih menurut Dr. Ashton, keterlibatan Mama saat anak bermain dapat megajarkan cara bermain yang seharusnya. Kegiatan ini juga akan membantu mempercepat proses belajar anak, mengembangkan potensi sosialnya, mengenali kemampuan atau bakat, minat, hingga kebutuhan emosionalnya.

3. Bacakan cerita
Tidak ada kata terlalu dini untuk mulai membacakan cerita untuk anak. Seperti yang dikatakan Dr.Rosmarie Truglio, seorang ahli pendidikan, “Membaca dapat menumbuhkan kecintaan anak pada buku, meningkatkan kemampuan kosakata serta membantu mengembangkan keterampilan berbahasa.”
Pilih buku-buku sederhana dengan gambar dan warna yang menarik agar anak dapat turut melihat dan memainkannya.

4. Bernyanyilah!
Pilih lagu yang memiliki syair berima, memiliki nada-nada atau bunyi-bunyi unik serta membuat Anda bergerak. Cicak-cicak di dinding, hap! Mudah, bukan? “Ini cara yang sangat menyenangkan untuk mengajak anak mempelajari beragam bunyi dan menamabah perbendaharaan kata. Anak juga akan terdorong untuk ikut bergerak dan bergembira.

Jumat, 10 Oktober 2014

3 Fakta Menarik Seputar Psikologi Bayi

Seorang psikolog yang mengkhususkan diri dalam pendalaman perkembangan anak, Lynne Murray, mengungkapkan beberapa fakta menarik seputar apa yang terjadi dalam otak bayi. Tiga diantaranya kami bagikan di sini…

1. Keuntungan memiliki bayi yang rewel
Jika Anda memiliki bayi yang sering menangis dan sulit untuk ditenangkan, jangan buru-buru merasa kesal dan kecewa lho, karena menurut Lynne, dengan lingkungan yang penuh kasih sayang, bayi jenis ini dapat berkembang dengan positif, baik secara fisik maupun emosional. Jika ia mendapatkan perhatian yang cukup, kelak ia dapat tumbuh menjadi anak yang ‘mudah diarahkan’.

Namun demikian, jika ia tumbuh di tengah lingkungan yang buruk (kasar, kurang kasih sayang, dsb), maka resiko untuk menjadi anak yang sulit diatur memang lebih besar dibandingkan bayi yang berpembawaan tenang.

Mengapa demikian?
Ternyata berdasarkan penelitian, bayi yang rewel biasanya lebih merespon terhadap dunia di sekitar mereka. Makanya istilah yang tepat untuk mereka adalah bayi ‘sensitif’ ;)  Kalau lingkungannya baik, maka perkembangannya pun positif. Kalau lingkungannya buruk, maka perkembangannya pun negatif.

2. Membaca sejak dini
Kegiatan membaca bisa dimulai sejak dini, bahkan sejak bayi. Kegiatan ini selain dapat meningkatkan kemampuan berbahasa si kecil, juga dapat melatih rentang daya konsentrasinya.

Menurut American Academy of Pediatrics, kegiatan membaca yang baik untuk bayi adalah yang melibatkannya untuk proaktif dan dapat dimulai bahkan sejak bayi terlihat belum menanggapi atau merespon.
Untuk kegiatan membaca, buku bantal/buku kain merupakan salah satu media yang sangat positif. Selain menggunakan warna-warna cerah yang merangsang bayi, buku jenis ini juga biasanya memperkenalkan berbagai tekstur yang bisa merangsang indera peraba si kecil, sehingga ia mulai mengenal apa itu kasar, halus, lembut, berbulu, dsb.

Bahkan banyak juga buku bantal/kain yang juga merangsang perkembangan motorik halus bayi dengan menggunakan ritsleting maupun kancing yang bisa dibuka tutup. Ada juga bagian-bagian yang jika dibuka akan menampilkan gambar, sehingga menambah efek kejutan untuk bayi. Semua ini dapat mengajak si kecil untuk berperan aktif dalam kegiatan membaca.

Selain buku untuk anak dengan warna cerah dan variasi tekstur, metode flash card juga dapat membantu sebagai kegiatan membaca yang melibatkan bayi secara proaktif.
Mengenai kapan sebaiknya kegiatan ini diterapkan pada bayi, Lynne mengatakan, “Lebih dini, lebih baik”.

3. Tanggapan bayi terhadap suara bernada tinggi
Anda tentu sering berbicara dengan bayi bukan? Jika ya, mengapa ketika berbicara dengan bayi Anda menggunakan suara kecil serta intonasi layaknya pengisi suara pada film animasi? :)

Ya, ternyata berbicara dengan bayi seperti itu memiliki dasar pengetahuan tersendiri lho! Ternyata berdasarkan penelitian, bayi akan belajar lebih baik ketika suara yang ditangkapnya bersifat seperti itu, dibandingkan jika ia mendengar suara biasa.

Sebagai contoh, sebuah eksperimen dilakukan terhadap bayi berusia 6 bulan. Kepadanya diucapkan beberapa kata yang baru dikenalnya dengan menggunakan 2 jenis suara; suara kecil dan suara biasa orang dewasa. Ternyata, kata-kata baru yang diucapkan menggunakan suara kecil berintonasi tinggi dapat langsung dikenali oleh si bayi ketika diulangi keesokan harinya. Sebaliknya, kata-kata yang sama yang diucapkan menggunakan suara normal orang dewasa ternyata sama sekali tidak dikenali olehnya.
Menarik juga ya… ;)

Sumber: http://www.tipsbayi.com/3-fakta-menarik-seputar-psikologi-bayi.html

Sabtu, 27 September 2014

Syafani & Syifana Usia 5 Bulan

Sudah lama tidak nulis lagi tentang si Kembar Syafani dan Syifana, sekarang usia mereka sudah 5 bulan lebih seminggu. Lucu sekali, sekarang syafa-syifa sudah tengkurep  meski kadang masih dibantu sama bundanya. Sekarang juga sering mencoba merangkak maju meski masih susah payah.

Harusnya, usia 4 bulan menurut kebanyakan bayi sudah tengkurep. Meski ada juga sih yang bahkan sampai 6 bulan belum tengkurep tapi malah langsung duduk. Ya begitulah, perkembangan anak belum tentu sama karena masing-masing punya keunikan tersendiri. Dan kami pun tidak terlalu khawatir dengan hal itu. Yang jelas kami terus pantau perkembangan si kembar hari demi hari.

Yang lebih menggelikan lagi, sekarang si kembar sudah lebih mengenali orang-orang di sekelilingnya dan sudah asyik dengan dengan mainannya.
Oh iya sekarang si Kembar punya kebiasaan baru. Syafa mainan ludah dengan "memanyunkan" kedua bibirnya, sedangkan Syifa kalau sedang tengkurap sering mengangkat pantatnya dan kakinya manjat-manjat seprti mau berenang. Hehehehe. 

Minggu, 27 Juli 2014

Lebaran Pertama si Kembar

Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.

Takbir sudah berkumandang dari penjuru tempat menandai berakhirnya bulan Ramadhan tahun ini (1435 H/2014 M). Semua umat muslim di seluruh dunia tentunya bergembira menyambut kemenangan, namun juga sedih karena bulan yang penuh ampunan segera berlalu. Alhamdulillah Idul Fitri tahun ini jatuhnya bersamaan. Pemerintah juga mengumumkan Idul Fitri jatuh tanggal 28 Juli 2014 yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari terlebih dahulu oleh Muhammadiyah menggunakan metode Hisab.

Buat si kembar Syafani dan Syifana ini adalah Takbir Idul Fitri pertamanya. Bulan ramadhan pertamanya, bulan Syawal pertamanya dan juga gelegar suara-suara petasan pertamanya. “Begitulah nak, di malam takbir kalian  akan lebih mendengar suara mercon dan petasan yang sangat nyaring terdengar daripada suara Takbir dari corong pengeras suara masjid. Bukan karena kurang lantang pekikan takbirnya, namun suara gelegar mercon ternyata lebih dahsyat”. Begitu bisikku pada si kembar yang sedang lelap dan sesekali terbangun ketika kaget bunyi Duaaaarrrr....Dorrrrr...mercon, petasan kembang api dan apalah namanya menghentak telinga mungilnya.

Minggu, 13 Juli 2014

Menyusui si Kembar

Merawat bayi kembar memang membutuhkan tenaga ekstra, apalagi bayi kembarnya adalah bayi pertama dalam keluarga tentu butuh kesabaran yang lebih. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah pemberian ASI (Air Susu Ibu). Si Kembar Syafani dan Syifana sudah beberapa minggu ini disusui secara bersamaan oleh bundanya. Tadinya satu persatu secara bergantian karena memang  dirasa cukup repot juga ketika harus menyusui secara bersamaan. Dokterpun juga dari awal memang menyarankan pemberian ASI nantinya kalau bisa bersamaan.

Dalam memberikan ASI pada bayi yang kembar memang terkesan repot akan tetapi apabila anda sudah mengetahui trik dalam memberikan ASI yang tepat maka anda akan merasakan kenyamanan dan tidak sama sekali merasakan kerepotan dalam pemberian ASI. Ternyata ada beberapa teknik pemberian ASI untuk bayi kembar. Berikut ini adalah cara menyusui bayi kembar yang saya kutip dari hasil penelusuran Mbah Gugel